Rabu, 03 Oktober 2012

KITA ADALAH ORANG BUTA



Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dg tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus. Dg tangannya yg lain di meraba posisi dimana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke Dalam bus mencari-cari bangku yg kosong dg tangannya. Setelah yakin bangku yg dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat. 

Satu tahun sudah, Juli, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yg penuh dg ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di linkungannya. Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yg selama ini dicita-citakan.

Merasa tak berguna dan tak ada seorang pun yg sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya. "Bagaimana ini bisa terjadi padaku?" dia menangis. Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo'a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.

Diantara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yg begitu penyayang dan setia, Harun. Harun adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Juli dg seluruh hatinya. Ketika mengetahui Juli kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Juli tenggelam kedalam jurang keputus-asaan. Harun ingin menolong mengembalikan rasa percaraya diri Juli, seperti ketika Juli belum menjadi buta.

Harun tahu, ini adalah perjuangan yg tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit. Karena buta, Juli tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dg terhormat. Harun mendorongnya supaya belajar huruf Braile. Dg harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Juli bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Harun? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yg akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yg berkecamuk di dalam hati Juli yg putus asa. Tapi Harun membimbing Jiwa Juli yg sedang frustasi dg sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Juli ke sekolah, di mana Juli musti belajar huruf Braile.

Dg sabar Harun menuntun Juli menaiki bus kota menuju sekolah yg dituju. Dg Susah payah dan tertatih-tatih Juli melangkah bersama tongkatnya. Sementara Harun berada di sampingnya. Selesai mengantar Juli dia menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Harun mengantar dan menjemput Juli. Lengkap dg seragam dinas security.

Tapi lama-kelamaan Harun sadar, tak mungkin selamanya Juli harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Juli harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya. Dg hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Juli tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Juli, bagaimanapun juga masih terpukul dg musibah yg dialaminya.

Seperti yg diramalkan Harun, Juli histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan. "Saya buta, tak bisa melihat!" teriak Juli. "Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya." Harun hancur hatinya mendengar itu.
Tapi dia sadar apa yg musti dilakukan. Mau tak mau Juli musti terima. Musti mau menjadi wanita yg mandiri. Harun tak melepas begitu saja Juli. Setiap pagi, dia mengantar Juli menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Juli akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dg tongkatnya. Harun menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada.

Setelah dirasanya yakin bahwa Juli bisa pergi sendiri, dg tenang Harun pergi ke tempat dinas. Sementara Juli merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yg begitu setia dan sabar membimbingnya. Memang tak mungkin bagi Harun untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu Diantar ke tempatnya belajar, sebab Harun juga punya pekerjaan yg harus dilakoni. Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yg tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Juli yg dulu, yg tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar. Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Juli menjalani rutinitasnya belajar, dg mengendarai bus kota sendirian.

Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, "saya sungguh iri padamu". Juli tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. "Anda bicara pada saya?" " Ya", jawab sopir bus. "Saya benar-benar iri padamu". Juli kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yg berjalan terseok-seok dg tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri? "Apa maksud anda?" Juli bertanya penuh keheranan pada sopir itu. "Kamu tahu," jawab sopir bus, "Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dg seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan. Dia memperhatikanmu dg harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari
situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yg memperhatikan dan melindungimu" .

Air mata bahagia mengalir di pipi Juli. Walaupun dia tidak melihat orang tsb, dia yakin dan merasakan kehadiran Harun di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Harun telah memberinya sesuatu yg lebih berharga dari penglihatan. Sebuah pemberian yg tak perlu untuk dilihat kasih sayang yg membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Teman, kita ibarat orang buta. Yg diperintahkan bekerja dan berusaha Kita adalah orang buta. Yg diberi semangat untuk terus hidup dan bekerja Kita tak bisa melihat Tuhan dan malaikat.Tapi Dia terus membimbing Seperti cerita Dia memompa semangat kita Cemas dan khawatir dg langkah kita Dan tersenyum puas Melihat kita berhasil melewati ujian-Nya.

HIDUP BUKANLAH SUATU LOMBA


Seorang ibu duduk disamping seorang pria dibangku dekat Taman-Main suatu minggu pagi yang indah cerah.

"Tuh.., itu putraku yang disitu," katanya, sambil menunjuk kearah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan.

"Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak itu. "Yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itulah anakku," sambungnya.

Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?" Jack, setengah memelas, "Kalau lima menit lagi, boleh yahhh, sebentar lagi, ayah, boleh kan?" "Cuma tambah lima menit kok, yaaa...?"

Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi.

"Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?" Lagi-lagi Jack memohon,
"Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya?"
Pria itu bersenyum dan bilang, "OK lah, iyalah..."
"Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar," ibu itu menanggapinya.

Pria itu tersenyum, lalu berkata, "Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda dekat-dekat sini. Oleh sopir mabuk. Aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John, sekarang apapun ingin kuberikan demi dan asal saja saya bisa bersamanya biar- pun hanya untuk lima menit lagi. Aku bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain."

Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas.
Prioritas apa yang anda miliki saat ini? Berikanlah pada seseorang yang kau kasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya.

KISAH POHON APEL


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi, "kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih lagi.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. "Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.


Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah
apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk
mengigit buah apelmu, "jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki
batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang. "Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air
matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.

Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya, dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

BERKOMUNIKASI DENGAN ALLAH


Membaca surat Al-Fatihah berarti membuka pintu kemuliaan teragung, yaitu berkomunikasi dengan Allah swt.

Rasululllah saw. meriwayatkan dalam hadist Qudsi

“Aku membagi shalat antara Aku dan hambaKu menjadi dua bagian, dan bagi hambaKu apa yang ia minta,
Apabila hamba berkata “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”
Allah berfirman, “Yang HambaKu memujiKu.”
Apabila hamba berkata “Maha Pemurah lagi Maha Penyang.”
Allah berfirman, “HambaKu menyanjungKu.”
Apabila hamba berkata “Yang menguasai hari pembalasan.”
Allah berfirman, “HambaKu memuliakanKu.” Atau berfirman “HambaKu berserah diri kepadaKu.”
Apabila hamba berkata “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
Allah berfirman “Ini antara Aku dan hambaKu, dan baginya apa yang dimintanya.”
Apabila hamba berkata “Tunukilah kami jalan lurus, (yaitu) jalan orang-orag yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pulan jalan) mereka yang sesat.”
Allah berfirman “Ini antara Aku dan hambaKu dan baginya apa yang ia minta.”
(HR. Muslim)

HADIST ARBAIN


Hadist ke 1
Umar bin Khatab ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda :
“Semua amal perbuatan tergatung niatnya dan setiap orag akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 2
Umar bin Khatab ra. berkata,
“Suatu hari kami duduk dekat Rasulullah saw, tiba-tiba muncul seorang laki-laki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam legam. Tak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia duduk di depan Nabi, lututnya di tempelkan ke lutut beliau, dan kedua tangannya diletakkan di paha beliau, lalu berkata, ‘Hai Muhammad! Beritahu aku tentang Islam’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Islam itu engkau bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau mampu.’ Laki-laki itu berkata, ‘Benar.’ Kami heran kepadanya; Bertanya, tapi setelah itu membenarkan jawaban Nabi.
Ia bertanya lagi, ‘Beritahu aku tentang Iman.’ Nabi menjawab, ‘Iman itu engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Akhir dan takdir yang baik atau yang buruk.’ Ia berkata, ‘Benar.’
Ia bertanya lagi, ‘Beritahu aku tentag Ihsan. Nabi menjawab, ‘Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.’
Laki-laki itu berkata lagi, ‘Beritahu aku kapan terjadinya Kiamat.’ Nabi menjawab, ‘Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.’
Ia pun bertanya lagi, ‘Beritahu aku tana-tandanya.’ Nabi menjawab, ‘Jika seorang budak telah melahirkan tuannya, orang yang bertelanjag kaki dan tidak memakai baju (orang miskin), dan pengembala kambing saling berlomba mendirikan bangunan megah.’
Kemudian laki-laki itu pergi. Aku diam beberapa waktu. Setelah itu Nabi bertanya kepadaku, ‘Hai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?’. ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, “Dia itu Jibril, datang untuk mengajarkan Islam kepada kalian.
(HR. Muslim)

Hadist ke 3
Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khattab ra. berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
“Islam dibangung di atas lima (pondasi): Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah, Melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadha.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ke 4

Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, Rasulullah saw. yang jujur dan terpercaya bersabda kepada kami, “Sesungguhnya penciptaan kalian dikumpulkan dalam rahim ibu selama empat puluh hari berupa nuftah (sperma), lalu alaqah (segumpal darah) selama itu pula, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat utuk meniupkan ruh dan mencatat empat perkara yang telah ditentukan, yaitu: rezeki, ajal, amal dan sengsara atau bahagianya.
Demi Allah, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya ada diantara kalian yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta, namun suratan takdirnya sudah ditetapkan, lalu ia melakukan perbuatan penghuni neraka, maka ia pun masuk neraka.
Ada juga yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni nereka hingga jarak antara dia dan neraka haya sehasta. Namun suratan takdirnya sudah ditetapkan, lalu ia melakukan perbuatan penghuni surga, maka ia pun masuk surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 5
Ummul mukminin, ummu Abdillah, ‘Aisyah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Barangsiapa mendatangkan hal baru dalam urusan agama yang tidak termasuk bagian darinya (tidak ada dasar hukumnya) maka tertolak”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Riwayat muslim menyebutkan, Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa melakukan amalan, tanpa di dasari perintah kami, maka tertolak.”

Hadist ke 6
Abu Abdillah Nu’man bin Basyir ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Antara keduanya ada perkara samar yang tidak diketahui banyak orang. Orang yang menghindari perkara samar, berarti memelihara agama dan harga dirinya. Sedangkan orang yang jatuh dalam perkara samar, berarti jatuh dalam perkara haram. Seperti pengembala yang mengembala dekat daerah terlarang, tentu sangat riskan, suatu saat hewan gembalaanya pasti akan memasuki daerah terlarang itu. Ketahuilah, setiap raja memiliki daerarh terlarang. Ingatlah bahwa daerah larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam tubuh manusia teradapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh pun baik, jika ia rusak, seluruh tubuh pun rusak. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 7
Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dary ra. berkata, Nabi saw. bersabda, “Agama itu ketulusan.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” beliau bersabda, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin dan kaum muslimin.”
(HR. Muslim)

Hadist ke 8
Ibnu Umar ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Aku diperintah memerangi manusia hingga mereka bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka telah melakukan itu berarti telah melindungi darah dan harta mereka kecuali dengan alasan yang dibenarkan Islam, sedangkan perhitungan mereka (termasuk orang baik atau buruk) adalah wewenang Allah swt.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 9
Abu Hurairah Abdurrahman bin Shahr ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Apa yang kularang, jauhilah, dan apa yang kuperintah, laksanakalah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah banyak bertanya dan berselisih dengan nabi mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 10
Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik. Dia memerintahkan orang-orang mukmin sama seperti yang diperintahkan kepada para Rasul. Dia berfirman, ‘Hai para Rasul, makanlah makanan yang baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (Al-Mukminun: 51). Dia juga berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman makanlah makanan yang baik yang kami berikan kepada kalian.’ (Al-Baqarah: 172).
Lalu Rasulullah bercerita tentang seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, hingga rambutnya kusut dan kotor. Ia menadahkan kedua tangannya ke langit (seraya berdoa), ‘Ya Rabb,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia kenyang dengan barang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.”
(HR. Muslim)

Hadist ke 11
Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib ra., cucu kesayangan Rasulullah saw. berkata. Aku hafal sabda Rasulullah saw.,
“Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan kerjakan perkara yang tidak meragukanmu.”
(HR. Tirmizi dan Nasai, Tirmizi berkata, “Hadist ini hasan shahih”)

Hadist ke 12
Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Diantara tanda sempurnanya islam seorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.”
(Hadist ini hasan, diriwayatkan oleh Tirmizi dan yang lainnya)

Hadist ke 13
Abu Hamzah, Anas bin Malik ra., pelayan Rasulullah, berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Seorang diantara kalian tidak beriman jika belum bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 14
Ibnu Mas’ud ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulu-Nya, kecuali satu dari tiga hal berikut: Tsayyib (orang yang sudah menikah/janda/duda) yang berzina, membunuh orang, dan meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jamaah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 15
Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangga, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 16
Abu Hurairah ra. berkata, seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw., “Berilah aku nasihat.” Beliau menjawab, “Jangan marah.” Beliau mengulanginya beberapa kali, “Jangan marah.”
(HR. Bukhari)

Hadist ke 17
Abu Ya’la Syaddad bin Aus berkata, Rasulullah saw., bersabda,
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku ihsan dalam segala hal. Karena itu, jika membunuh (yang dibnarkan syari’at), bunuhlah dengan baik, dan jika menyembelih, sembelihlah dengan baik, tajamkan pisau dan jangan membuat hewan sembelihan itu menderita.”
(HR. Muslim)

Hadist ke 18
Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabal ra., keduanya berkata, Rasulullah saw., bersabda,
“Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada. Iringilah kesalahanmu dengan berbuat baik, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.”
(HR. Tirmizi. Dia berkata “Hadist ini hasan.”)

Hadist ke 19
Abu Abbas Abdullah bin Abbas ra. berkata, Suatu hari aku berada di belakang Rasulullah saw., (membonceng), Beliau bersabda,
“Nak, Aku hendak mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah, pasti Dia menjagamu. Jagalah Allah, Dia senantiasa bersamamu. Jika kamu memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya. Jika meminta pertolongan, minta tolonglah kepada-Nya.
Ketahuilah seandainya semua umat manusia bersatu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, mereka tidak akan mampu, kecuali yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya semua umat manusia bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu, kecuali keburukan yang telah ditetapkan Allah untukmu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering.”
(HR. Tirmizi. Dia berkata hadist ini hasan shahih)

Hadist ke 20
Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya sebagian yang masih diingat orang dari ajaran para nabi terdahulu adalah, “Jika tidak malu, berbuatlah sesukamu.”
(HR. Bukhari)

Hadist ke 21
Abu Amr, (ada yang menyebutnya Abu Amrah) Sufyan bin Abdillah ra. berkata kepada Rasulullah,
“Wahai Rasulullah, katakan kepadaku perkataan tentang Islam yang tidak akan kutanyakan kepada selain engkau”
Beliau bersabda,
“Katakanlah ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamahlah”
(HR. Muslim)

Hadist ke 22
Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-Anshari ra. berkata, ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah saw.,
“Jika aku shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Lalu aku tidak menambah amalan selain amalan itu. Apakah aku masuk surga?.” Beliau mejawab, “Ya”
(HR. Muslim)

Hadist ke 23
Abu Malik Al-Harits Al-Asy’ari ra, Rasulullah saw. bersabda,
“Bersuci itu bagian dari iman, ucapan Alhamdulillah memperberat timbangan (kebaikan), ucapan Subhanallah dan ucapan Alhamdulillah memenuhi ruangan antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, shadaqah adalah bukti nyata, sabar adalah pelita dan Al-Quran adalah argumen yang membela atau menuntutmu. Semua orang berusaha. Ia pertaruhkan dirinya. Ada yang untung dan ada yang merugi.”
(HR. Muslim)

Hadist ke 24
Abu Dzar Al-Ghifari ra. berkata, Nabi saw. mensabdakan firman Allah swt,
“Wahai hamba Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman kepada diri Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian. Karena itu, jangan saling menzalimi.
Wahai hamba Ku, kalian semua tersesat, kecuali yang Ku beri petunjuk. Karena itu, mintalah petunjuk kepada Ku, pasti Ku beri petunjuk.
Wahai hamba Ku, kalian semua lapar, kecuali yang Ku beri makan. Karena itu mintalah makan kepada Ku, pasti Ku beri makan.
Wahai hamba Ku, kalian semua telanjang, kecuali yang Ku beri pakaian. Karena itu mintalah pakaian kepada Ku, pasti Ku beri pakaian.
Wahai hamba Ku, sesungguhnya kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari. Sedangkan Aku mengampuni semua dosa. Karena itu, mohonlah ampun kepada Ku, pasti Ku ampuni.
Wahai hamba Ku, kalian tidak dapat menjangkau kemudharatan Ku. Karena itu, sedikitpun kalian tidak mampu menimpakan mudharat kepada Ku. Kalian juga tidak dapat menjangkau kemanfaatan Ku. Karena itu kalian sedikitpun tidak mampu memberi manfaat kepada Ku.
Wahai hamba Ku, andaikan kalian semua, yang pertama dan terakhir, dari bangsa manusa dan jin, menjadi seperti orang yang bertaqwa diantara kalian, sama sekali tidak menambah kekuasaan Ku.
Wahai hamba Ku, andaikan kalian semua, yang pertama dan terakhir, dari bangsa manusa dan jin, menjadi seperti orang paling jahat diantara kalian, sama sekali tidak mengurangi kekuasaan Ku.
Wahai hamba Ku, andaikan kalian semua, yang pertama dan terakhir, dari bangsa manusa dan jin, berkumpul di satu dataran, mengajukan permintaan kepada Ku, lalu masing-masing Aku kabulkan permintaannya. Hal itu sama sekali tidak mengurangi kekayaan Ku, kecuali Hanya seperti jarum yang dicelupkan ke laut.
Wahai hamba Ku, semua itu adalah amal perbuatan kalian. Aku hitung lalu Ku beri balasan. Karena itu, barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan barang siapa mendapatkan selain itu, hendaklah tidak mencela kecuali dirinya sendiri.”
(HR. Muslim) 

Hadist ke 25
Abu Dzar ra. berkata, beberapa sahabat berkata kepada Rasulullah,
“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya itu mengumpulkan banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, dan mereka bershadaqah dengan kelebihan harta mereka (sementara kami tidak bisa bershadaqah).
Beliau bersabda, ‘Bukakah Allah telah menjadikan sesuatu yang bisa kalian shadaqahkan?; sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah shadaqah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah shadaqah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah shadaqah, setiap tahlil (Laa ilaaha illallah) adalah shadaqah, menyeru kepada kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemunkaran adalah shadaqah, dan bersetubuh dengan istri adalah shadaqah.’
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapat pahala?”. Beliau menjawab, ‘Bukankah jika disalurkan kepada yang haram dia berdosa?, maka demikian pula jika disalurkan kepada yang halal, dia mendapatkan pahala.’
(HR. Muslim)

Hadist ke 26
Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan shadaqahnya setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan secara adil dua orang yang bertikai adalah shadaqah, membantu orang lain menaiki kendaraan atau mengangkatkan barang ke atas kendaraannya adalah shadaqah, kata-kata yang baik adalah shadaqah, tiap-tiap langkah untuk mengerjakan shalat (di masjid) adalah shadaqah, dan menyingkirkan duri di jalan adalah shadaqah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 27
Nawwas bin Sam’an ra. berkata, Nabi saw. bersabda,
“Kebajikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwa dan kamu tidak suka bila dilihat orang lain.”
(HR.Muslim)
Riwayat lain menyebutkan, Wabishah bin  Ma’bad ra. berkata, Aku mendatagi Rasulullah saw. kemudian berliau bertanya,
“Kamu datang untuk bertanya kebajikan?”. Aku menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Tanyakan kepada hatimu sendiri!. Kebajikan adalah apa yang membuat jiwa dan hatimu tentram, sedagkan dosa adalah apa yang membuat jiwa dan hatimu gelisah, meskipun orang lain berulang kali membenarkanmu.”
(HR. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darimi. Hadist ini hasan)

Hadist ke 28
Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah ra. berkata,
“Rasulullah menasihatikami dengan nasihat yang membuat hati kami luluh, dan air mata kami berderai.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat perpisahan, karena itu berilah kami pesan terakhir.” Beliau bersabda,
“Aku berpesan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah swt., patuh dan taatlah meskipun pemimpin kalian adalah budak, karena orang yang hidup sesudahku, pasti akan menyaksikan banyak pertikaian. Karena itu bepegangteguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyiddin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Dan hindarilah hal-hal yang baru (dalam soal agama), karena semua yang bid’ah itu sesat.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmizi. Imam Tirmizi mengatakan, hadist ini hasan shahih.)

Hadist ke 29
Mu’adz bin Jabal ra. berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka.”
Beliau menjawab, “Yang kamu tanyakan adalah perkara besar, namun akan menjadi mudah bagi yang dimudahkan Allah swt. Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan dengan yang lain, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan dan hadi ke Baitullah.”
Lalu beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan?; Puasa adalah perisai, shadaqah dapat  menghapus kesalah seperti air memadamkan api, dan shalat malam.” Kemudian beliau membaca surat As-Sajdah: 16-17. Lalu beliau bersabda, “Maukah kamu kuberitahu pangkal agama, tiang dan puncak tertingginya?” Aku menjawab, Mau wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pangkal agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad.”
Lalu beliau bersabda, “Maukah kalian kuberitahu apa kendali semua itu?” Aku menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Beliau menyentuh lidahnya seraya berkata, “Jagalah ini!” Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena perkataan kita?”. Beliau bersabda, “Hus, bukankan kebanyakan orang orang terjungkal ke neraka akibat dari ulah lidah mereka.”
(HR. Tirmizi. Dia berkata, hadist ini hasan shahih)

Hadist ke 30
Abu  Tsa’labah Al-Khusyani Jurtsum bin Nasyir ra. berkata, Rasululah saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kewajiban-kewajiban, maka jangan sampai diabaikan. Dia telah meletakkan batasan-batasan, maka jangan sampai diterjang. Dia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan sampai dilanggar. Dia juga telah mendiamkan beberapa hal, karena sayang kepada kalian dan bukan karena lupa, maka jangan sampai diributka.”
(Hadist ini hasan, diriwayatkan olah Ad-Daruquthini dan yang lain)

Hadist ke 31
Abul Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi ra. berkata,
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang apabila kulakukan, aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Zuhudlah terhadap dunia, pasti Allah mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, pasti manusia pun mencintaimu’.”
(HR. Ibnu Majah dan yang lain. Hadist ini hasan)

Hadist ke 32
Abu Sa’id bin Sinan Al-Khudri ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak rugi dan tidak merugikan.”
(Hadist ini hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Daruquthni dan yang lain)

Hadist ke 33
Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Seandainya setiap orang bebas mengklaim, pasti banyak orang yang mengklaim harta dan jiwa orang lain. Karena itu, orang yang mengklaim harus mendatangkan bukti, dan orang yang menyangkal harus bersumpah.”
(Hadist ini hasan. Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan yang lain. Bagian dari hadist ini tetera di shahih Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 34
Abu Sa’id Al-Khudriy ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,
“Barangsapa melihat kemunkaran, hendaklah merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu tingkatan iman paling lemah.”
(HR. Muslim)

Hadist ke 35
Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Jangan salin menghasud, saling menipu, saling membenci, saling membelakangi, dan jangan membeli barang-barang yang telah dibeli orang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Orang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Karena itu, tidak menzaliminya, tidak mentelantarkannya, tidak membohonginya, dan tidak melecehkannya. Takwa itu disini (sambil menunjuk dadanya tiga kali). Cukupla seseorang dikategorikan jahat jika dia menghina saudaranya sesama muslim. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim adalah suci terpelihara.
(HR. Muslim)

Hadist ke 36
Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
“Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari kesusahan di dunia, pasti Allah akan membebaskan dari kesusahan di hari Kiamat,
Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, pasti Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan di akhirat,
Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya tersebut menolong saudaranya,
Barangsiapa menempuh perjalaan untuk mencari ilmu (yang baik), pasti Allah memberinya kemudahan ke surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah (masjid), membaca dan mempelajari Al-Quran, niscaya mereka merasakan ketentraman dan kasih sayag. Para malaikat berkerumun di sekeliling mereka, dan Allah memuji mereka di hadapan semua makhluk yang berada di sisiNya.
Orang yang amal pebuatannya kurang sempurna, tidak bisa disempurnakan oleh kemuliaan nasab.”
(HR. Muslim)

Hadist ke 37
Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah bersabda meriwayatkan firman Allah,
“Sesungguhnya Allah mencatat amal baik dan amal buruk. Kemudian Dia menjelaskan, “Barangsiapa ingin melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika ia benar-benar melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan, bahkan hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih.
Sedangkan bila orang yang ingin melakukan keburukan tapi tidak melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh. Jika ia melakukan keburukan itu, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ke 38
Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, Allah swt. Berfirman,
“Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah hambaKu mendekatiKu dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan.
Hambaku tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepadaKu dengan ibada sunah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi tangan yang ia gunakan untuk menggenggam, menjadi kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada Ku, pasti akan Ku beri, dan Jika memohon perlindungan kepada Ku, pasti Kulindungi.”
(HR. Bukhari)

Hadist ke 39
Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda
“sesungguhnya Allah swt. Mentolerir umatku atas kekeliruan, kelupaan, dan apa yang dipaksakan kepada mereka.”
(Hadist ini hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Baihaqi, dan yang lain)

Hadist ke 40
Ibnu Umar ra. berkata, Rasulullah saw. memegang pundakku dan bersabda,
“Di dunia ini, jadilah kamu seperti orang asing atau penyebrang jalan.”
Ibnu Umar berkata, “Jika kamu di sore hari, jagan menunggu pagi hari, dan jika kamu di pagi hari, jangan menunggu sore hari. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum kamu sakit, dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.”
(HR. Bukhari).

LIRIK LAGU PENGAMEN

Lagu Pengamen

Waktu masih kuliah
gw sering dan suka banget dengerin lagu ini
dinyanyiin sama pengamen kecil di atas metro mini

sepertinya lagu ini menjadi kritikan yg cukup menyentil
bagi kita yang terlalu fokus sama urusan dunia

ini lirik lagunya :

Ternyata begitu berat
Jalankan sgala printah Mu
Begitu banyak rintangan
Tuk menghadapkan wajah kehadirat Mu Tuhan

Indahnya dunia ini
Membuat aku terlena
Bekerja terus bekerja
Tak kenal waktu dan tak kenal lelah

***
Gema azan subuh aku lelap tertidur
Gema azan dzuhur aku sibuk bekerja
Gema azan ashar aku geluti dunia
Tuhan.. pantaskah surga untukku

Gema azan maghrib aku di perjalanan
Gema azan isya’ lelah tubuhku Tuhan
Tak pernah lagi ku baca Firman Mu
Tak ada waktu buat sujud kepada Mu

***
Begitu besar kasih dan sayang Mu
Begitu banyak Limpahan karuniamu
Aku yang sombong dan aku yang lalai
Tuhan.. pantaskah surga untukku